Judul kabar tersebut merupakan alih bahasa dari berita laman berita cleantechnica.com yang dirilis pada 30 Oktober 2018 ini. Disebutkan pada berita yang ditulis oleh Joshua S Hill tersebut bahwa menurut kajian analisis oleh Carbon Tracker, sebuah organisasi think tank independent dengan kesimpulan akhir: Membangun PLTS dan PLTB pada akhir dekade berikutnya akan lebih murah dari pada melanjutkan operasi PLTU Batubara existing di Indonesia, Philipina, dan Vietnam.
Dalam hasil kajian tersebut disebutkan bahwa Indonesia, Philipina, dan Vietnam mengikuti jejak langkah negara maju yang mengandalkan energi batu bara yang murah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sekaligus mensejahtarekan warganya. Namun demikian, hal tersebut akan berubah dalam 10 tahun mendatang seiring dengan menurunnya biaya pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan seperti PLTSurya dan PLTBayu.
![]() | ||
| The Cost of New Renewables versus the Capacity-Weighted Operating Cost of Coal under Different Fuel Prices in Indonesia |
Berdasarkan kajian tersebut disebutkan bahwa pembangunan PLTS akan lebih murah daripada mengoperasikan PLTU Batubara pada 2027 dan pembangunan PLTB akan lebih murah dari pada mengoperasikan PLTU Batubara pada 2028.
Matt Gay
dari Carbon Tracker menyampaikan bahwa konsumen negara tersebut akan
menuntut listrik yang lebih murah dan pembangkit listrik energi
terbarukan akan menjadi jawaban atas tuntutan tersebut karena dramatic-fall
dari biaya pembangungan dan pengoperasian PLT EBT. Dia juga memberi
catatan bahwa hal tersebut Pembuat Kebijakan harus bertindak sesegera
mungkin agar transisi tersebut berjalan mulus.
Sebastian Ljungwaldh dari Carbon Tracker juga menambahkan pemerintah negara tersebut dapat mempercepat waktu kedatangan PLT EBT tersebut dengan beberapak kebijakan seperti reformasi pasar listrik domestik, insentif keuangan, serta fasilitasi aliran dana privat. "Sebagai contoh Indonesia, investasi pada infrastruktur jaringan mereka akan memungkinkan peningkatan peran energi terbarukan dan kemudian akan mempermudah
penyediaan jaminan keuangan, hal yang menjadi
perhatian bagi IPP saat ini".
Sumber:

No comments :
Post a Comment